All for Jesus Christ

All for Jesus Christ

Selasa, 25 Februari 2014

Rahasia Isi Kotak Sepatu

Henry dan Marta sudah menikah lebih dari 40 tahun, tentu sudah banyak kejadian yang terjadi di dalam hidup mereka berumah tangga. Ada saat-saat bahagia, walau ada juga saat susah. Kini mereka sudah renta, Henry 72 tahun dan Marta 68 tahun. Namun mereka tetap bersama.

Di dalam hidup berumah tangga, keduanya tidak pernah menyimpan rahasia, kecuali sebuah kotak sepatu yang disimpan Marta di lemari pakaiannya. Marta berpesan kepada suaminya untuk tidak sekali-kali membukanya atau bahkan menanyakan tentang barang itu kepadanya dan suaminya menghormati hal tersebut.

Suatu hari, Marta sakit keras. Berbagai upaya telah dilakukan Henry dan anak-anak mereka untuk menyembuhkan Marta tapi tidak berhasil. Dokter sudah angkat tangan dengan penyakit Marta, karena usianya, tidak mungkin bagi dokter melakukan tindakan medis seperti kepada penderita lain pada umumnya.

"Tolong ambilkan kotak sepatu di lemari pakaianku." ujar Marta saat berbaring di tempat tidur, yang berkata lirih kepada suaminya. Henry segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kotak sepatu itu lalu memberikannya pada istrinya. Marta mungkin merasa inilah saatnya untuk membuka rahasia di dalam kotak sepatu itu.

"Bukalah." kata Marta lagi kepada suaminya. Perlahan-lahan Henry membuka penutup kotak itu dan mendapati ada dua boneka rajut dan setumpuk uang senilai hampir sepuluh juta rupiah. Henry bingung apa artinya dan dia pun menanyakan hal tersebut kepada istrinya.



"Ketika kita menikah, ada sebuah rahasia perkawinan yang dituturkan nenekku. Dia berpesan bahwa jangan sekali-kali membentak atau berteriak pada suamimu. Nenek bilang jika suatu saat saya marah padamu, saya harus tetap diam dan merajut sebuah boneka." ujar Marta bercerita.

Mendengar hal itu, Henry melihat kembali kehidupan mereka. Memang benar, ada saat-saat dimana Marta terlihat begitu marah namun tak pernah satu katapun yang keluar dari mulutnya. Henry terdiam mendengarnya dan dia pun tahu bahwa itu tak mudah bagi istrinya. Karenanya Henry sangat menghargai usaha Marta dan membuat air matanya mengucur diam-diam.

"Sayang, lalu bagaimana dengan uang sepuluh juta ini?" tanya Henry pada Marta. "Darimana engkau mendapatkan uang sebanyak ini?" tanyanya lagi.

"Oh, itu adalah uang hasil penjualan dari boneka-boneka yang pernah saya buat." jawab Marta kepada Henry.

Seringkali kita secara sengaja ataupun tidak, berusaha melukai pasangan dengan kata-kata ataupun sikap kita. Tidak hanya kepada pasangan, mungkin kepada orangtua, teman, teman kerja, ataupun orang-orang yang kita kasihi. Sebelum kemarahan itu menghanguskan, marilah kita mulai belajar untuk tetap diam dan merajut hati kita dengan kesabaran.

Pengkhotbah 7:8

"Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati."



Sabtu, 22 Februari 2014

Kisah Seorang Anak yang Buta Tuli


Alkisah ada seorang anak yang hidup berbahagia bersama dengan kedua orang tua yang begitu mencintai dan menyayangi-nya. Pada suatu hari, dalam perjalanan berlibur, mereka mengalami sebuah kecelakaan yang cukup dahsyat. Kecelakaan ini menyebabkan sang ibu meninggal dan sang anak tidak sadarkan diri. Sang ayah sungguh terpukul dan menyesali hal tersebut. Setelah beberapa bulan penantian, sang anak pun tersadar dari koma-nya, akan tetapi sang anak menjadi buta tuli.  Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan. Dan sang ayah berjanji untuk menyertai sang anak setiap saat.


Pada suatu hari yang panas, sang anak meminta kepada sang ayah untuk diperbolehkan membeli es krim. Mengetahui keadaan sang anak yang sedang demam tinggi dan mengkonsumsi es krim hanya akan memperburuk keadaan sang anak, sang ayah hanya dapat diam mendengar rengekan sang anak karena tidak ada yang dapat diperbuat sang ayah meskipun sang ayah sangat ingin mengutarakan kepada sang anak alasan mengapa sang ayah tidak memberikan apa yang sang anak minta saat itu.

Pada suatu hari yang dingin, ketika sedang berjalan-jalan dengan sang ayah, sang anak berjalan mendekati sebuah tempat yang hangat. Mengetahui hal tersebut, sang ayah dengan sigap menarik sang anak dengan begitu kuatnya sehingga sang anak jatuh dan terluka. Sang anak pun menangis. Melihat sang anak menangis, sang ayah hanya dapat memeluk-nya tanpa bisa memberitahu bahwa sang ayah melakukan hal tersebut karena tempat hangat yang dituju sang anak sungguh berbahaya bagi sang anak, yaitu sebuah gedung yang sedang terbakar hebat.

Pada suatu hari yang cerah, sang ayah mengambil liontin dari kalung yang dikenakan sang anak dan membuang-nya. Sang anak sangat marah kepada sang ayah karena liontin tersebut adalah liontin kesayangan-nya yang diberikan oleh sang ibu sewaktu sang anak berulang tahun. Sang ayah hanya dapat diam tanpa bisa memberikan penjelasan kepada sang anak bahwa sang ayah melakukan hal tersebut karena tidak menginginkan sang anak terluka karenanya. Ingin rasanya sang ayah menjelaskan bahwa liontin tersebut sudah berkarat dan bagian tajamnya dapat setiap saat melukai sang anak, namun apa daya si anak tidak dapat mendengar.



Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdoa dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi mujizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yg tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh pengelihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yg telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil berkata. “Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku.”

Sahabat Tuhan, sering kali kita tidak memahami rencana dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita hanya tahu tentang apa yang kita inginkan, namun kita tidak memahami bahwa sesungguhnya Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika kondisi kita seperti sang anak yang kerap kali kecewa dengan kenyataan yang ada, jangan pernah lupa bahwa Kasih Bapa itu cukuplah bagi kita. Kasih Bapa yang tidak pernah meninggalkan kita. Kasih Bapa yang setia bersama kita. Kasih Bapa yang menjadi penghiburan buat kita. Kasih Bapa yang tidak berakhir. Bukankah itu cukup bagi kita untuk menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup ini ? 




Jumat, 21 Februari 2014

Tetaplah Bersyukur

Nina adalah seorang gadis yang baik hati. Dia memiliki seorang tetangga yang tinggal sendirian bernama Nenek Tuti. Karena merasa kasihan pada Nenek Tuti yang kesepian, Nina membawakannya sepotong kue buatannya sebagai kejutan. Ketika kali pertama Nenek Tuti menerimanya, Nenek Tuti sangat terharu dan berterima kasih. 

Melihat nenek Tuti suka, seminggu kemudian Nina kembali membawa kue yang sama. “Terima kasih,” jawab nenek singkat.

Namun setelah sebulan lewat, Nina yang biasanya membawakan kue setiap hari Sabtu, baru sempat membawanya pada hari Minggu. Karena itu, Nenek Tuti mengambil kue dari Nina dengan muka yang marah lalu menutup pintu depan rumahnya di depan muka Nina tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali.

Minggu selanjutnya, karena sangat sibuk, Nina tidak sempat membuat kue. Dan ketika ia berangkat kerja dan melewati rumah si nenek, nenek Tuti keluar dan berteriak, “Hei Nina, mana kue nenek?" 



Tentu kita merasa bahwa Nenek Tuti dalam cerita di atas itu sangat konyol. Bila kue yang diterimanya itu gratis, mengapa dia harus marah bila Nina terlambat mengantarkannya? Karena kue itu sejak semula pun bukan hak Nenek Tuti, melainkan bentuk belas kasihan dari Nina kepada Nenek Tuti. 

Sadarkah kita, bahwa kita pun sering seperti nenek itu melakukan hal yang sama kepada Tuhan dan sesama. Karena kita selalu menerima sinar matahari pagi setiap hari, nafas kehidupan setiap hari, langit yang biru setiap hari, maka kita berpikir bahwa hal-hal kecil semacam itu tidak perlu disyukuri lagi karena kita menganggap memang sudah seharusnya seperti itu. Padahal, semuanya itu adalah anugerah semata-mata dan bukanlah hak kita sama sekali.

Terkadang saat orang lain sering berbuat baik kepada kita, maka kita menganggap bahwa itu adalah sebuah keharusan padahal itu adalah salah satu anugerah yang sebenarnya bukan hak kita untuk mendapatkannya. Sehingga ketika suatu saat orang lain terlambat atau tidak memberkati kita seperti sebelum-sebelumnya, maka kita menjadi marah dan menganggap orang lain jahat.

Saat kita melihat berkat yang sama setiap hari, kita tidak akan memperhatikannya lagi. Ketika tidak lagi memperhatikan, kita berhenti menghargai. Ketika tidak menghargai, kita berhenti bersyukur. Ketika kita tidak bersyukur, kita mulai mengeluh.

Tuhan mengajarkan kita untuk bersyukur setiap waktu. Ya, karena tanpa bersyukur kita tidak akan dapat melihat keajaiban di dalam setiap hal yang ada di sekitar kita. Bahkan hal yang paling kecil dan sederhana sekalipun. Yesus memulai mukjizat-Nya lewat ucapan syukur kepada Allah Bapa. Bahkan Yesus pun masih tetap mengucapkan syukur kepada Allah Bapa. 

Ada 86.400 detik dalam sehari. Sudahkah kita mengucap syukur kepada Tuhan hari ini ?




Minggu, 22 Desember 2013

Semangkuk Bakmi

Mendung tampak di langit senja. Seakan pertanda hujan segera tiba. Saat itu, Anne bertengkar hebat dengan ibunya. Penuh amarah yang membuncah, akhirnya Anne meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Dalam perjalanannya, ia baru menyadari sama sekali tdk membawa uang. 

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai dan mencium harumnya aroma masakan sang pedagang bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkuk, tetapi tak sepeser uang pun di kantongnya.

Pemilik kedai melihat Anne berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?" 

"Ya, tetapi, aku tidak membawa uang," jawab Anne dengan malu-malu

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si pemilik kedai. "Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".


Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Anne segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.. 

"Ada apa nona?" tanya si pemilik kedai.

"Tidak apa-apa. Aku hanya terharu," jawab Anne sambil mengeringkan air matanya.

"Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi. Tetapi ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah," ucapan Anne disertai sedu-sedan sambil meneruskan curahan hatinya, "Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri." 

Pemilik kedai setelah mendengar perkataan Anne menarik nafas panjang...
"Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini... Aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan, kau malah bertengkar dengannya."

Anne terhenyak mendengar hal tersebut. "Mengapa aku tdk berpikir tentang itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan, hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya. 

Anne segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya. 

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Anne, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Anne, kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang". 

Pada saat itu Anne tidak dapat menahan tangisnya. Ia langsung bersimpuh penuh air mata di hadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat (keluarga) khususnya orang tua, adakah kita senantiasa berterimakasih dan mengingat segala kebaikan mereka lebih dari segala kekurangan mereka ? Benar bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Tetapi kasih orang tua yang telah kita peroleh sejak kita lahir itu adalah sebuah anugerah Tuhan yang patut kita syukuri senantiasa. 

Sabtu, 14 September 2013

Ayah, Anak dan Keledai

Ada seorang ayah dan anaknya yang sedang berjalan menarik keledai milik mereka. Mereka berniat untuk menjual keledai ini di kota. Saat awal perjalanan dari rumah menuju kota, sang ayah dan anak berjalan kaki sambil menuntun keledainya. Sampai tak berapa lama, ada orang yang berkata kepada ayah dan anak ini, “Kalian bodoh sekali, kalian berdua menuntun keledai yang seharusnya bisa mengangkut salah satu dari kalian!”

Mendengar orang berkata seperti itu, sang ayah menyuruh sang anak duduk di atas keledai tersebut. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama mereka berjalan, mereka berpapasan dengan satu orang lagi. Orang tersebut tiba-tiba berkata, “Dasar anak tidak berbakti! Orangtua yang sudah tua disuruh berjalan kaki, sementara dia sendiri malah enak-enakan duduk santai di atas keledai!”

Mendengar komentar seperti itu, sang ayah dan anak pun segera berganti posisi. Sekarang sang ayah yang duduk di atas keledai dan sang anak yang berjalan kaki menuntun keledai. Tak berapa lama kemudian, kembali mereka berpapasan dengan orang lain di jalan. Orang tersebut berkomentar, “Dasar orangtua tidak sayang anak! Anak sudah terlihat kelelahan berjalan, bukannya disuruh duduk di atas keledai malah dirinya sendiri yang enak-enakan duduk di atas keledai!”


Segera setelah mendengar komentar tersebut, sang ayah menyuruh anaknya ikut naik menunggang keledai. Sehingga sekarang sang ayah dan anak tersebut sama-sama duduk menunggangi keledai. Kembali setelah tak lama berjalan, terdengar komentar dari orang lain, “Kalian lihat keledai yang malang tersebut. Bagaimana kalian bisa membiarkan keledai tersebut mengangkut kalian berdua. Kalian berdua mungkin lebih mudah mengangkat keledai ini daripada keledai ini mengangkut kalian berdua!”

Akhirnya sang ayah memutuskan untuk mengikat kaki keledai mereka di sebuah tongkat panjang, kemudian sang ayah dan anak memanggul keledai tersebut di pundak mereka. Semakin dekat mereka berjalan menuju kota, semakin banyak orang yang merasa aneh melihat pemandangan seekor keledai dipanggul oleh ayah dan anak ini. Banyak orang mulai penasaran dan mulai berbondong-bondong datang berdiri melihat dari dekat ayah dan anak ini. Karena banyak orang di sekeliling, keledai menjadi takut dan mulai meronta-ronta. Saat mereka melewati jembatan, keledai ini meronta dengan sangat hebat dan akhirnya terlepas dari ikatannya, lalu terjatuh ke sungai dan mati tenggelam.

Pesan moral :

1. Kita tidak dapat mengontrol apa yang dipikirkan orang lain. Juga tidak dapat mengontrol apa yang dikatakan orang lain. Namun kita bisa mengatur sikap kita sendiri. Tidak semua yang dikatakan orang itu 100% benar. Karena manusia hanya bisa melihat sisi luar tanpa bisa melihat sampai ke dalam hati. Hanya Tuhanlah yang sanggup melihat sampai kedalaman hati. Karena itu, dengarkanlah kata hati nuranimu sendiri. Jika yang dikatakan orang lain itu benar, perbaikilah. Tetapi jika apa yang dikatakan orang lain itu tidak benar, maka tidak perlu dirisaukan. Apalagi jika yang berbicara bukan orang yang mengenal kita secara pribadi. Bukankah lebih penting bagaimana Tuhan memandang kita daripada penilaian manusia terhadap kita ? Bukankah Tuhan jauh lebih mengenal kita dari siapapun juga ?

2. Kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang karena begitu banyaknya perbedaan di antara satu pribadi dan pribadi lainnya. Bagi seseorang mungkin senang, tapi bagi yang lainnya mungkin merasa tidak suka. Jika kita berusaha untuk menyenangkan semua orang, maka itu merupakan awal kegagalan kita. Karena tujuan hidup kita bukan untuk menyenangkan semua orang tetapi untuk menyenangkan sang Pencipta. Ketika Tuhan Yesus melayani di dunia, tidak semua orang menyukaiNya. Ada yang menuduh dia mengusir setan dengan kuasa roh jahat. Ada yang suka memberiiNya pertanyaan untuk menjatuhkanNya. Ada juga yang suka memperhatikan kegiatanNya bersama murid-murid, untuk mencari-cari, siapa tahu saja bisa mempersalahkan Dia di hadapan umat Israel. Namun Tuhan Yesus tidak dipengaruhi dengan perasaan orang-orang yang tidak menyukaiNya. Ia tetap menjalankan perintah Bapa di Surga dan tetap taat hingga mati di atas kayu salib. Siapakah kita ini ? Kalau Guru kita pernah ditolak, dihina, dicela, kita pun pasti akan mengalaminya. Itu bukan hal yang menyedihkan. Justru itulah hal yang menggembirakan karena kita mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dari penderitaan yang tidak seharusnya kita tanggung, yakni penderitaan yang bukan karena kesalahan kita. Dan Tuhan selalu menyediakan reward bagi kita saat kita telah melewati satu persatu hal yang seperti itu dengan reaksi yang positif.

3. Pepatah berkata, sejahat-jahatnya seseorang, selalu masih ada orang yang membela. Sebaliknya, sebaik-baiknya seseorang tetap ada orang yang tidak menyukainya. Itulah kenyataan hidup ini. Tanggapan-tanggapan negatif dari orang-orang terhadap apa yang kita lakukan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi kita untuk belajar berbesar hati dan berlapang dada untuk memaafkan. Tanpa hal-hal seperti itu, kita tidak bisa belajar menjadi dewasa. Dan jika hanya karena perkataan manusia, kita kemudian mundur dari Tuhan, bagaimana kita bisa bertumbuh ? Justru sebaliknya kita harus maju dengan sikap yang positif dan tetap konsisten sampai akhirnya semua yang negatif itu lenyap terdorong arus positif.

4. Kerugian dialami sang ayah dan anak karena keledainya mati tenggelam. Dan kerugian akan kita alami pula jika kita terlalu merisaukan perkataan orang. Ingatlah bahwa apapun yang kita perbuat, orang-orang tetap akan membicarakannya secara positif maupun negatif. Jika kita terus memusingkan tanggapan orang, kita tidak akan pernah bisa mengerjakan sesuatu dan menghasilkan sesuatu. Bahkan kita akan kehilangan kesempatan yang berharga, kehilangan waktu, dll.

Keep Smile. 

Tetap Semangat.

Tuhan memberkati kita semua.

Sabtu, 07 September 2013

Yesus Hanya Sejauh Doa

Tuhan Yesus hanya sejauh doa...
Datanglah kepadaNya dalam doamu...
Curahkanlah isi hatimu kepadaNya...
Serahkan semua bebanmu kepadaNya...
Dan percayalah bahwa Tuhan pasti memulihkan hidupmu...



Dia yang menyeka air matamu...
Dan menggantikannya dengan nyanyian syukur...
Sungguh engkau berharga di mataNya...
Dan Dia mengasihimu apa adanya...

Saat-saat tersulit dalam hidupmu...
Sesungguhnya merupakan saat-saat terindah bersama Tuhan... 
jika engkau mau tetap berjalan bersamaNya...
Ya, hanya bersamaNya...
Sekalipun dalam lembah airmata...
Sekalipun dalam kesunyian tak bertepi...
Dia selalu ada untukmu...
Menggendongmu...
Menerobos badai kehidupan...
Mendaki gunung harapan...

Tak pernah sedetikpun...
Tuhan meninggalkan setiap kita...
Dia selalu Setia...

By : Someone

Kisah Duka sang Dokter

Seorang dokter sedang bergegas masuk ke dalam ruang operasi.


Ayah dari anak yg akan dioperasi menghampirinya, "Kenapa lama sekali anda sampai ke sini? Apa anda tidak tau, nyawa anak saya terancam jika tidak segera di operasi?" labrak si ayah.

Dokter itu tersenyum, "Maaf, saya sedang tidak di Rumah Sakit tadi, tapi saya secepatnya ke sini setelah ditelepon pihak Rumah Sakit..." Kemudian ia menuju ruang operasi.

Setelah beberapa jam, ia keluar dengan senyuman di wajahnya: "Syukurlah,  keadaan anak anda kini stabil..."

Tanpa menunggu jawaban sang ayah, dokter tersebut berkata: "Suster akan membantu anda jika ada yang ingin anda tanyakan.." Dokter tersebut berlalu.

"Kenapa dokter itu sombong sekali? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya!" sang ayah berkata pada suster.

Sambil meneteskan airmata, suster menjawab : "Anak dokter tersebut meninggal dalam kecelakaan kemarin sore. Dan ia sedang menguburkan anaknya saat kami meneleponnya untuk melakukan operasi pada anak anda. Sekarang anak anda telah selamat. Namun ia harus kembali ke rumahnya segera pada istrinya....".

Kisah ini disadur dari kisah di Jerman.

Saudaraku,
Jangan pernah terburu-buru dalam menilai seseorang...
Karena setiap orang punya cerita kehidupan yang tak terbayangkan...
Dibalik senyuman mungkin saja ada cerita duka...
Kita tidak tahu seperti apa masalah setiap orang karena tidak setiap orang menanggapi masalahnya dengan mengeluh atau mengungkapkan masalah-masalah hidupnya dengan kata-kata...
Mungkin segelintir orang hanya menaruh masalah mereka di bawah kaki Tuhan...
Mungkin mereka hanya membawa masalah mereka dalam doa di balik kamar yang terkunci rapat dan jauh dari jangkauan dunia...
Karena itu, tidak semua orang yang tampak gembira tidak memiliki masalah yang berat.
Tetapi mungkin saja mereka adalah orang-orang yang berserah kepada Tuhan sehingga mereka dapat tetap tersenyum dan bersukacita meskipun dalam kesulitan dan duka...

Hari ini kita belajar untuk bersyukur karena selalu masih ada orang yang jauh lebih menderita dari pada kita jika saja kita tahu kisah yang sebenarnya... Seperti Bapak yang anaknya sakit itu, seharusnya bersyukur karena nyawa anaknya masih bisa tertolong sementara dokter itu telah kehilangan anaknya untuk selama-lamanya...

Kamis, 22 Agustus 2013

Sebungkus Biskuit

Kisah ini sangat menggelitik, namun mengingatkan kita bahwa kita perlu lebih teliti dalam melihat suatu masalah agar kita tidak sekedar berasumsi apalagi sampai menuduh orang lain tanpa bukti yang nyata.

Di ruang tunggu sebuah bandara, seorang wanita terlihat tengah menunggu pesawat yang akan menerbangkan dirinya. Karena harus menunggu cukup lama, ia memutuskan untuk membeli buku untuk dibaca. Ia juga membeli sebungkus biskuit, sekadar untuk camilan dirinya di saat menunggu pesawat.

Ia kemudian duduk di salah satu kursi di ruang tunggu dan mulai membuka dan membaca buku yang dipegangnya. Di kursi sebelah, yang hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil yang di atasnya tersaji sebungkus biskuit, duduklah seorang pria. Pria tsb terlihat mulai membaca majalah.



Ketika wanita itu mengambil sepotong biskuit dari bungkusan yang terletak di atas meja, pria tsb mengambil sepotong juga. Wanita itu merasa terganggu dengan perbuatan pria tsb, namun ia diam saja. Dalam hati, ia hanya menduga bahwa ini hanya ulah pria iseng. Namun, kejadian ini terulang kembali. Setiap wanita itu mengambil biskuit, si pria ikut mengambil dan mencicipi biskuit tersebut. Wajah si pria tampak tenang, tanpa merasa bersalah. Sebaliknya, wanita muda itu kian jengkel dengan sikap pria tersebut. Dalam hati ia berkata, "Pria ini benar-benar tidak tahu malu. Dasar, tidak tahu diri. Huh... Ingin rasanya kutampar saja mukanya."

Beberapa saat kemudian, hanya tersisa 1 keping biskuit di dalam bungkusan. Dengan senyum mengembang, pria itu menawarkan biskuit terakhir kepada wanita itu. Dengan wajah jengkel, wanita itu menolak. Seketika kepingan biskuit terakhir itu pun masuk ke dalam mulut pria misterius itu. 

"Benar-benar keterlaluan .....!" pikir wanita itu dengan kekesalan yang memuncak. Ia segera mengemasi barang-barangnya karena jadwal keberangkatan telah tiba. Wanita tersebut bergegas menuju ke pesawat. 

Saat berada di tempat duduk, ia membuka tasnya, mengambil handphone untuk menonaktifkannya. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat di dalam tasnya ada sebungkus biskuit yang masih utuh belum tersentuh. Pikirannya pun melayang mengingat kejadian barusan. Ternyata biskuit yang ia makan saat di bandara bukan miliknya, tetapi milik pria tersebut! Betapa malunya ia mengenang kejadian tersebut. 
Ia kini menyesal dan benar-benar merasa malu! Ia merasa bersalah.
Ia mengira bahwa biskuit yang dimakan tadi adalah miliknya
.... ternyata bukan!

Pria tadi membagi biskuit antara dirinya dan wanita itu tanpa merasa marah, tenganggu atau pun merasa rugi. Sementara wanita itu merasakan sebaliknya. Ia merasa bahwa biskuit tsb adalah miliknya yang telah diserobot oleh pria tsb, dan menyangka betapa si pria tsb telah berbuat kurang ajar dan tidak tahu diri.

Saudaraku, 
dengan jari telunjuk, kita sering menunjuk orang lain. Namun tanpa disadari, 3 jari lainnya mengarah kepada diri kita sendiri. Gadis dalam kisah ini menganggap pria itu tidak tahu diri. Tetapi kenyataannya, dialah sebenarnya orang yang tidak tahu diri itu.

Karena itu, pesan moral dari kisah ini, janganlah terlalu cepat menjatuhkan penilaian negatif kepada orang lain atas apa yang kita lihat dan apa dia lakukan. Sebab penilaian kita seringkali sangatlah subjektif dan terkadang hanya berdasarkan sudut pandang yang sempit. Dan janganlah sampai kita mencela orang lain apalagi jika semua itu hanya berdasarkan pikiran kita yang sempit.


Sabtu, 26 Mei 2012

Pelajaran dari Pensil



Pada jaman dulu, pensil dibuat secara menual dalam arti tidak menggunakan mesin-mesin canggih seperti sekarang. Sebelum merakit pencil, seorang tukang pencil memilih kayu kecil yang benar-benar lurus dengan ukuran yang sesuai. Sesudah itu ia akan membelah kayu menjadi dua tepat di tengah. Di tengah-tengah belahan kayu tersebut dipasang batangan grafit. Sepasang kayu tersebut kemudian diolesi lem dan dikatupkan kembali.

Proses itu pulalah yang dilakukan oleh Charles. Charles adalah seorang tukang pensil yang cukup terkenal. Memang, tidak banyak orang yang bisa membaca dan menulis waktu itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang membutuhkan jasa Charles. Biasanya kaum bangsawan maupun keluarga kerajaan. Sehingga, kedudukan pembuat pensil di mata masyarakat waktu itu pun cukup terpandang.

Tetapi ada yang unik dari Charles. Setelah selesai merakit pensil dan sebelum dimasukkan ke kotaknya, Charles selalu berkata-kata dulu pada pensil buatannya. Begini katanya :

"Ada 5 (lima) hal yang wajib kamu ketahui untuk menjadi pensil yang sempurna." 
Ia melanjutkan, 
  • "Pertama, ingatlah bahwa kalian hanya bisa menghasilkan tulisan yang indah jika ada sebuah tangan yang menuntun kalian."
  • "Kedua, setiap akan dipakai, kalian akan diraut dan dikikir. Ini adalah proses yang sangat menyakitkan. Tapi hanya itulah satu-satunya cara agar kalian bisa selalu tajam, sempurna, dan layak digunakan."
  • "Ketiga, jangan takut untuk berbuat salah karena kalian bisa memperbaikinya sekalipun tidak bisa menghapusnya."
  • "Keempat, bagian terpenting pensil terletak di dalam diri kalian, yaitu batangan grafit untuk menulis."
  • "Kelima, mungkin kalian tidak digunakan untuk menulis di atas kertas melulu, adakalanya di tembok, di kanvas, atau di tempat-tempat lain yang tidak seharusnya. Tetapi, tetaplah setia untuk menggoreskan grafitmu. Karena tugasmu hanyalah menulis, tidak peduli dimanapun kamu akan ditugaskan."


Jika cerita di atas direnungkan, apa yang dikatakan Charles kepada pensil buatannya sangat mirip dengan apa yang terjadi pada manusia :

  • Pertama, manusia hanya bisa menghasilkan karya yang indah jika manusia tersebut membiarkan Tangan Tuhan mengendalikannya.
  • Kedua, manusia akan selalu bertemu dengan berbagai masalah. Tetapi harus diakui bahwa masalah-masalah tersebut membuat manusia bisa makin bertumbuh dan makin sempurna.
  • Ketiga, setiap manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi setiap manusia juga bisa memperbaiki kesalahan sekalipun tidak mampu untuk menghapusnya.
  • Keempat, keindahan manusia justru terletak pada bagian dalamnya, bukan pada sisi luarnya.
  • Kelima, adakalanya manusia merasa berada di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Tetapi manusia harus tetap setia dengan peran dan tugasnya di tempat-tempat tersebut. Mungkin Sang Pencipta memiliki rencana tersendiri kenapa manusia dibiarkan berada di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Adakalanya saat kita berada dalam lembah kekelaman, justru saat itulah kita baru belajar percaya dan menggantungkan setiap harapan kita kepada Tuhan.




Bunga Sang Kaisar



Pada suatu waktu, di Cina, hiduplah seorang pria muda, bernama Chang. Ia cerdas dan tulus. Lebih dari segalanya, ia mencintai bunga. Tak ada yang lebih menyenangkannya daripada melihat bunga Lilac, Lili dan Peony, ketika mereka mekar di musim semi.

Di musim dingin, ia menanti-nantikan munculnya bunga Narcissus yang indah. Ia tidak bisa memilih sebuah bunga favorit, karena ia menyukai bunga Morning Glory dan Evening Glory, bunga Delima, bunga Peach, dan bunga Teratai yang mengapung di kolam. Ia menikmati bunga Mawar yang wangi, Seruni yang kokoh, dan Dahlia yang menakjubkan.

Chang mengagumi kaisar, karena ia pernah mendengar bahwa kaisar juga mencintai bunga dan mengawasi kebun indah di taman istana. Sekarang kaisar sudah lanjut usia. Ia tidak mempunyai putera, sehingga ia tidak mempunyai calon penggantinya. Selama bertahun-tahun ia memikirkan cara memilih seorang pria yang bisa diangkat sebagai kaisar berikutnya.

Kemudian, suatu hari di awal musim semi, ketika ia berjalan-jalan di tamannya, ia mendapat gagasan yang sangat bagus. Hari berikutnya, kaisar mengumumkan pada semua pria muda di negeri itu, bahwa di akhir Minggu ia akan memberikan biji-bijian, kepada siapapun yang ingin menanam bunga. Kaisar mengatakan, “Siapapun yang menumbuhkan bunga terindah, yang dibawa ke hadapanku akan menjadi penggantiku.”

Ketika Chang mendengar berita itu, ia mengisi sebuah pot biru terang dengan lumut dan kompos, tanah subur dan pasir. Puas bahwa tanahnya subur dan lembab, ia membawanya ke istana. Di sana ia berdiri di dalam antrian bersama ratusan orang lain. Setiap pria muda memegang sebuah pot: ada yang besar, kecil, bulat dan tinggi.

Setiap orang menerima sebuah biji dari tangan kaisar sendiri. Chang menekan biji itu ke dalam tanah di pot, dan dengan berhati-hati menutupnya dengan kain tipis, untuk menjaganya agar tetap hangat. Kemudian ia bergegas pulang.

Di rumah, Chang memelihara biji dari kaisar itu dengan pengabdian yang sama, seperti yang ia berikan ke semua tanamannya. Ia berhati-hati untuk tidak memberi terlalu banyak atau terlalu sedikit air. Pada saat yang tepat ia memberi pupuk, dan sangat berhati-hati dalam melindunginya dari serangga, debu dan jamur, seperti pada semua tanaman lainnya.

Berbulan-bulan berlalu, tanaman lainnya telah menembus tanah dan mulai tumbuh. Tetapi Chang kecewa, karena tak ada tunas yang tumbuh di pot birunya. “Ini aneh,” katanya, “Mungkin biji ini tidak membutuhkan banyak matahari.” Jadi, ia memindahkan pot itu ke ruangan lain, tetapi juga tidak terjadi apapun. “Mungkin ruangan ini terlalu dingin,” katanya, dan ia memindahkan pot birunya ke ruangan yang lebih hangat. Masih juga tak terjadi apapun.

Waktu untuk menghadap Kaisar sudah mendekat, dan pot biru Chang masih kosong. Setiap kali memandanginya, ia dipenuhi rasa putus asa. “Apa yang salah?” pikirnya. Ia mengunjungi setiap ahli perkebunan yang ia kenal, dan kepada setiap orang menceritakan kisah bijinya.

Mereka semua menggelengkan kepala. Tak ada yang tahu di mana letak kesalahannya. Beberapa orang mengatakan bahwa jelas ia tidak dimaksudkan untuk menjadi kaisar. Beberapa orang lainnya mengatakan ia harus menambah tanah atau menambah air, atau mengurangi pupuk. Beberapa orang lain mengatakan untuk melupakan keinginannya menjadi kaisar. Tetapi orang tua Chang mendengarkan kekhawatiran anaknya dan hanya tersenyum.

“Jangan khawatir, Nak. Kamu sudah melakukan hal terbaik,” kata ayahnya dengan bijak, “hanya itu yang dapat kau lakukan.” “Tetapi aku telah gagal,” keluh Chang ketika memandangi tanah kosong di potnya, “Sudah waktunya untuk menemui kaisar, dan aku sudah mengecewakannya.”

“Katakan saja apa yang telah terjadi,” kata ayahnya, “kewajibanmu hanyalah mengatakan kebenaran.”

Pada hari yang telah ditentukan beberapa waktu kemudian, dengan hati putus asa karena kecewa, Chan berjalan ke istana. Ketika tiba, air matanya mengalir, karena di depannya, lautan pria muda berdiri, masing-masing memegang bunga yang lebih indah dari pada orang di depannya. Bunga-bunga anggrek yang anggun, bunga Lili yang halus, bunga Peony yang berwarna-warni. Pemiliknya memeganginya dengan bangga. “Lihat punyaku!” teriak mereka sambil memegangi tanamannya tinggi-tinggi, ketika kaisar berjalan melewati kerumunan. Ia mengangguk senang sambil berlalu, memperhatikan bunga Bell, bunga Forget-me-not, bunga Foxglove, bunga dari setiap warna pelangi.

Chang belum pernah melihat pemandangan yang begitu indah, dan kesedihannya menguap untuk sementara waktu, ketika ia menghirup aroma bunga-bungaan dan mengagumi ukuran dan bentuk bervariasi dari bunga-bunga itu.

Akhirnya kaisar sampai juga di hadapan Chang. Chang membungkukkan kepalanya. “Di mana bungamu, pria muda?” tanya kaisar. Chang melihat cahaya di mata kaisar yang membuatnya terkejut.

“Baginda, hamba telah mengecewakan Baginda,” katanya dengan sedih. “Hamba telah merawat biji yang Baginda berikan. Tetapi seperti Baginda lihat, hamba tak mampu menumbuhkan bunga untuk Baginda. Hamba berharap Baginda memaafkan hamba,” ucap Chang penuh kesedihan.

Tetapi wajah Kaisar bersinar dengan senyum yang lebih cerah, dari pada semua bunga yang ada di sekelilingnya. “Kamulah penggantiku,” kata kaisar menggenggam tangan Chang.

“Tetapi, Baginda, hamba adalah satu-satunya orang yang gagal,” Kaisar menggelengkan kepalanya. “Sebaliknya,” jelasnya, “kamu tahu, aku telah merebus biji-biji ini sebelum aku membagikannya. Tidak satupun dari biji-biji itu yang akan tumbuh. Tetapi semua orang muda lain begitu menginginkan kedudukanku sehingga mereka hanya ingin menyenangkan aku, dengan keindahan bunga mereka, dan dengan demikian mereka berharap mendapatkan tahtaku. Mereka tidak peduli pada kejujuran, pada kebenaran. Hanya kamu yang telah membuktikan bahwa kamu adalah pemimpin yang layak!” Dan begitulah, pria muda dengan pot kosong itu menjadi pengganti Kaisar Cina.

Pesan Moral : 

Kejujuran adalah BAB PERTAMA dalam 'buku kebijaksanaan'. ~ Thomas Jefferson ~

Kamis, 17 Mei 2012

Kalau Boleh Memilih (PUISI)

Kalau boleh memilih...
Aku ingin duduk di belakang...
Atau bersembunyi di balik layar...
Menghabiskan waktu di ruang sunyi...
Dengan kedua lutut yang melekat di karpet...
Dan tangan yang terangkat tanda tak mampu...

Kalau boleh memilih...
Aku mau mengatupkan mulut serapat mungkin...
Tenggelam dalam hening...
Di mana hanya kudengar suaraMu...
Memanggil... Menasehati... Menghibur...
Dan mengajarkanku tentang banyak hal...

Kalau boleh memilih...
Cukup kupilih air mata saat bersamaMu...
Karena itu jauh lebih berkesan... 
Dari semua yang pernah kulalui...
Biarlah semua berlalu...
Karena segala sesuatu tak ada yang abadi...
Keinginan sirna... Kebanggaanpun tak berarti...
Hanya kasihMu, Tuhan...
Yang tak pernah berakhir...


Kalau saja aku boleh memilih...
Aaah, Engkau tahu isi hatiku...
Terima kasih, Tuhan...
Engkau sudah mendengarkanNya...

Created by : Someone

Sabtu, 14 April 2012

TAKUT atau TAAT ?

Perbedaan Melakukan Sesuatu Karena TAKUT atau Karena TAAT



  1. Melakukan sesuatu karena ada konsekuensinya (tidak mendapatkan sesuatu atau takut kehilangan sesuatu).
  2. Sikapnya tergantung dari keadaan sekitarnya; apakah yang ia takuti sedang melihatnya, ada disekitarnya, mengetahuinya atau tidak.
  3. Ia melakukan sesuatu dengan perasaan terpaksa.
  4. Sikap yang timbul karena rasa takut biasanya tidak bertahan lama.
  5. Sikap yang timbul karena rasa takut biasanya dimotivasi oleh egoisme (hanya karena tidak mau diri sendiri rugi).
  6. Bisa berujung pada pemberontakan dan pembangkangan.
  7. Melakukan sesuatu dengan disertai tekanan.
  8. Tujuannya untuk mencari aman diri sendiri; agar diri sendiri tidak rugi.


Melakukan Karena TAAT
  1. Melakukan sesuatu karena sadar bahwa itu memang adalah tanggung jawabnya.
  2. Sikapnya sama dimanapun dan dalam keadaan apapun; Sikapnya tidak ditentukan oleh bagaimana keadaan sekitarnya, apakah ada yang mengawasi atau tidak. 
  3. Melakukan sesuatu dengan kerelaan hati.
  4. Sikap yang timbul karena ketaatan biasanya bertahan lama karena ini adalah karakter.
  5. Sikap yang timbul karena ketaatan biasanya dimotivasi oleh kasih, respek, dan ucapan syukur.
  6. Berujung pada kesetiaan atau loyalitas.
  7. Melakukan sesuatu dengan disertai damai sejahtera.
  8. Tujuannya untuk menyenangkan orang/aturan yang sudah sepantasnya ia hormati dan taati.


Source : HandBook RH Spirit - April 2012

Jumat, 13 April 2012

Obey The Quotes

"Bila kita benar-benar ingin belajar dari orang lain, 
maka kita harus benar-benar taat."
- Ed Townsend -


"Tidak perlu ilmu tinggi untuk menjadi seorang Kristen. 
Yang diperlukan untuk menjadi Kristen adalah hati yang tulus 
dan kesediaan untuk menaati Tuhan."
- Albert Barnes -

"Taat itu lebih aman daripada memberi perintah."
- Thomas Kempis -

"Taat itu bukanlah sesuatu yang berat untuk dilakukan
saat kita mengasihi orang yang kita taati."
- St. Ignatius -

"Sulit untuk dipercaya jika kita sulit untuk taat."
- Soren Kierkegaard -

"Belajarlah untuk taat sebelum anda memerintah."
- Solon -

"Yang paling penting dalam hidup ini adalah 
kesediaan untuk taat pada Tuhan."
- Johannes Tauler -

"Anda bisa melihat Tuhan dimanapun 
asalkan pikiran kita diarahkan untuk mengasihi dan menaatiNya."
- Aiden Wilson Tozer -


Source : Handbook RH Spirit April 2012


Biarlah Video di bawah ini dapat menginspirasi kita untuk tetap taat 
sampai Tuhan datang menjemput setiap kita.






Selasa, 10 April 2012

Dilema Taat


Ketaatan adalah bagian yang penting dalam kehidupan orang Kristen. Tuhan sudah menunjukkan bagaimana Ia taat hingga akhir untuk menyelamatkan kita. Sekarang, tugas kita adalah untuk menaatiNya. Tapi, tantangan dan hambatan untuk taat pun selalu ada. Sering kali, tantangan itu lalu memunculkan dilema. Nah, apa saja tantangan dari ketaatan dan bagaimana kita bisa mengatasinya?

1. Ketika Ketaatan Mensyaratkan Pengorbanan

Taat menjadi sulit dilakukan saat kita harus kehilangan sesuatu atau tepatnya mengorbankan sesuatu. Saat mau taat hidup kudus, kita harus bisa mengendalikan diri dan hawa nafsu kita, meski orang-orang di sekitar kita melakukan yang sebaliknya. Saat kita mau taat memberi, kita harus dapat mengorbankan keinginan membeli sesuatu dengan uang itu. Bagaimana kita bisa menang atas hambatan ini ? Jawabannya adalah dengan iman akan janji Tuhan. Iman akan memunculkan pengharapan bagi kita, dan iman itu membutuhkan ketaatan. Jadi jangan fokus pada hambatannya, melainkan fokuskan pada iman dan Tuhan.

2. Ketika Ketaatan Melebihi Pikiran

Alkitab berisi banyak sekali kisah ketika seseorang harus taat meski Tuhan memerintahkan padanya suatu hal yang tampak tak masuk akal. Abraham dijanjikan Tuhan memiliki banyak keturunan, tapi Tuhan sendiri yang kemudian menyuruhnya untuk mempersembahkan Ishak, anak satu-satunya. Gideon disuruh menyerang 120 ribu pasukan hanya dengan 300 orang. Yosua disuruh mengalahkan kota Yerikho dengan cara mengelilingi temboknya saja. Petrus diminta menjala ikan justru di siang hari dan banyak hal lain. Semuanya secara nalar tidak masuk akal. Tapi, di sinilah ketaatan kita (kepada Tuhan) diuji. PikiranNya bukan pikiran kita (Yesaya 55:8-9). Ya, dalam hal taat kepada Tuhan, kadang kita tidak bisa bersandar pada pengertian diri sendiri. Percayalah bahwa Tuhan akan memberi yang terbaik meski kita dituntut untuk melakukan sesuatu yang tidak masuk akal (Amsal 3:5-6)

3. Ketika Ketaatan = Melawan Arus

Ketaatan mungkin lebih mudah jika semua orang mendukung kita. Tapi akan sulit jika ketaatan berarti melawan arus, bahkan membuat kita harus berdiri sendiri. Banyak orang gagal taat hanya karena ia ingin bisa diterima dan tidak mau diolok-olok, dikucilkan, dianggap aneh, dll. Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengalaminya, demikian juga Nuh atau Yosua, dan tentu saja Yesus sendiri.

4. Ketika Ketaatan Membuat Kita Menderita

Ketaatan bukan tak mungkin memunculkan penderitaan. Yesus mengatakan barangsiapa ingin menjadi muridNya, maka dia harus memikul salib (Lukas 14:27). Dia tidak berjanji kita akan bebas masalah saat kita memutuskan untuk taat dan menjadi muridNya. Tetapi di tengah penderitaan, pencobaan serta tantangan itu, Dia akan menyediakan damai sejahtera, sukacita dan kesatuan dengan Dia. Artinya, saat kita mau taat dan mau "memikul salib", Ia pasti akan membantu kita untuk tetap kuat dan mendapatkan penghiburan.



Source : HandBook RH Spirit - April 2012