All for Jesus Christ

All for Jesus Christ

Sabtu, 26 Mei 2012

Pelajaran dari Pensil



Pada jaman dulu, pensil dibuat secara menual dalam arti tidak menggunakan mesin-mesin canggih seperti sekarang. Sebelum merakit pencil, seorang tukang pencil memilih kayu kecil yang benar-benar lurus dengan ukuran yang sesuai. Sesudah itu ia akan membelah kayu menjadi dua tepat di tengah. Di tengah-tengah belahan kayu tersebut dipasang batangan grafit. Sepasang kayu tersebut kemudian diolesi lem dan dikatupkan kembali.

Proses itu pulalah yang dilakukan oleh Charles. Charles adalah seorang tukang pensil yang cukup terkenal. Memang, tidak banyak orang yang bisa membaca dan menulis waktu itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang membutuhkan jasa Charles. Biasanya kaum bangsawan maupun keluarga kerajaan. Sehingga, kedudukan pembuat pensil di mata masyarakat waktu itu pun cukup terpandang.

Tetapi ada yang unik dari Charles. Setelah selesai merakit pensil dan sebelum dimasukkan ke kotaknya, Charles selalu berkata-kata dulu pada pensil buatannya. Begini katanya :

"Ada 5 (lima) hal yang wajib kamu ketahui untuk menjadi pensil yang sempurna." 
Ia melanjutkan, 
  • "Pertama, ingatlah bahwa kalian hanya bisa menghasilkan tulisan yang indah jika ada sebuah tangan yang menuntun kalian."
  • "Kedua, setiap akan dipakai, kalian akan diraut dan dikikir. Ini adalah proses yang sangat menyakitkan. Tapi hanya itulah satu-satunya cara agar kalian bisa selalu tajam, sempurna, dan layak digunakan."
  • "Ketiga, jangan takut untuk berbuat salah karena kalian bisa memperbaikinya sekalipun tidak bisa menghapusnya."
  • "Keempat, bagian terpenting pensil terletak di dalam diri kalian, yaitu batangan grafit untuk menulis."
  • "Kelima, mungkin kalian tidak digunakan untuk menulis di atas kertas melulu, adakalanya di tembok, di kanvas, atau di tempat-tempat lain yang tidak seharusnya. Tetapi, tetaplah setia untuk menggoreskan grafitmu. Karena tugasmu hanyalah menulis, tidak peduli dimanapun kamu akan ditugaskan."


Jika cerita di atas direnungkan, apa yang dikatakan Charles kepada pensil buatannya sangat mirip dengan apa yang terjadi pada manusia :

  • Pertama, manusia hanya bisa menghasilkan karya yang indah jika manusia tersebut membiarkan Tangan Tuhan mengendalikannya.
  • Kedua, manusia akan selalu bertemu dengan berbagai masalah. Tetapi harus diakui bahwa masalah-masalah tersebut membuat manusia bisa makin bertumbuh dan makin sempurna.
  • Ketiga, setiap manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi setiap manusia juga bisa memperbaiki kesalahan sekalipun tidak mampu untuk menghapusnya.
  • Keempat, keindahan manusia justru terletak pada bagian dalamnya, bukan pada sisi luarnya.
  • Kelima, adakalanya manusia merasa berada di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Tetapi manusia harus tetap setia dengan peran dan tugasnya di tempat-tempat tersebut. Mungkin Sang Pencipta memiliki rencana tersendiri kenapa manusia dibiarkan berada di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Adakalanya saat kita berada dalam lembah kekelaman, justru saat itulah kita baru belajar percaya dan menggantungkan setiap harapan kita kepada Tuhan.




Bunga Sang Kaisar



Pada suatu waktu, di Cina, hiduplah seorang pria muda, bernama Chang. Ia cerdas dan tulus. Lebih dari segalanya, ia mencintai bunga. Tak ada yang lebih menyenangkannya daripada melihat bunga Lilac, Lili dan Peony, ketika mereka mekar di musim semi.

Di musim dingin, ia menanti-nantikan munculnya bunga Narcissus yang indah. Ia tidak bisa memilih sebuah bunga favorit, karena ia menyukai bunga Morning Glory dan Evening Glory, bunga Delima, bunga Peach, dan bunga Teratai yang mengapung di kolam. Ia menikmati bunga Mawar yang wangi, Seruni yang kokoh, dan Dahlia yang menakjubkan.

Chang mengagumi kaisar, karena ia pernah mendengar bahwa kaisar juga mencintai bunga dan mengawasi kebun indah di taman istana. Sekarang kaisar sudah lanjut usia. Ia tidak mempunyai putera, sehingga ia tidak mempunyai calon penggantinya. Selama bertahun-tahun ia memikirkan cara memilih seorang pria yang bisa diangkat sebagai kaisar berikutnya.

Kemudian, suatu hari di awal musim semi, ketika ia berjalan-jalan di tamannya, ia mendapat gagasan yang sangat bagus. Hari berikutnya, kaisar mengumumkan pada semua pria muda di negeri itu, bahwa di akhir Minggu ia akan memberikan biji-bijian, kepada siapapun yang ingin menanam bunga. Kaisar mengatakan, “Siapapun yang menumbuhkan bunga terindah, yang dibawa ke hadapanku akan menjadi penggantiku.”

Ketika Chang mendengar berita itu, ia mengisi sebuah pot biru terang dengan lumut dan kompos, tanah subur dan pasir. Puas bahwa tanahnya subur dan lembab, ia membawanya ke istana. Di sana ia berdiri di dalam antrian bersama ratusan orang lain. Setiap pria muda memegang sebuah pot: ada yang besar, kecil, bulat dan tinggi.

Setiap orang menerima sebuah biji dari tangan kaisar sendiri. Chang menekan biji itu ke dalam tanah di pot, dan dengan berhati-hati menutupnya dengan kain tipis, untuk menjaganya agar tetap hangat. Kemudian ia bergegas pulang.

Di rumah, Chang memelihara biji dari kaisar itu dengan pengabdian yang sama, seperti yang ia berikan ke semua tanamannya. Ia berhati-hati untuk tidak memberi terlalu banyak atau terlalu sedikit air. Pada saat yang tepat ia memberi pupuk, dan sangat berhati-hati dalam melindunginya dari serangga, debu dan jamur, seperti pada semua tanaman lainnya.

Berbulan-bulan berlalu, tanaman lainnya telah menembus tanah dan mulai tumbuh. Tetapi Chang kecewa, karena tak ada tunas yang tumbuh di pot birunya. “Ini aneh,” katanya, “Mungkin biji ini tidak membutuhkan banyak matahari.” Jadi, ia memindahkan pot itu ke ruangan lain, tetapi juga tidak terjadi apapun. “Mungkin ruangan ini terlalu dingin,” katanya, dan ia memindahkan pot birunya ke ruangan yang lebih hangat. Masih juga tak terjadi apapun.

Waktu untuk menghadap Kaisar sudah mendekat, dan pot biru Chang masih kosong. Setiap kali memandanginya, ia dipenuhi rasa putus asa. “Apa yang salah?” pikirnya. Ia mengunjungi setiap ahli perkebunan yang ia kenal, dan kepada setiap orang menceritakan kisah bijinya.

Mereka semua menggelengkan kepala. Tak ada yang tahu di mana letak kesalahannya. Beberapa orang mengatakan bahwa jelas ia tidak dimaksudkan untuk menjadi kaisar. Beberapa orang lainnya mengatakan ia harus menambah tanah atau menambah air, atau mengurangi pupuk. Beberapa orang lain mengatakan untuk melupakan keinginannya menjadi kaisar. Tetapi orang tua Chang mendengarkan kekhawatiran anaknya dan hanya tersenyum.

“Jangan khawatir, Nak. Kamu sudah melakukan hal terbaik,” kata ayahnya dengan bijak, “hanya itu yang dapat kau lakukan.” “Tetapi aku telah gagal,” keluh Chang ketika memandangi tanah kosong di potnya, “Sudah waktunya untuk menemui kaisar, dan aku sudah mengecewakannya.”

“Katakan saja apa yang telah terjadi,” kata ayahnya, “kewajibanmu hanyalah mengatakan kebenaran.”

Pada hari yang telah ditentukan beberapa waktu kemudian, dengan hati putus asa karena kecewa, Chan berjalan ke istana. Ketika tiba, air matanya mengalir, karena di depannya, lautan pria muda berdiri, masing-masing memegang bunga yang lebih indah dari pada orang di depannya. Bunga-bunga anggrek yang anggun, bunga Lili yang halus, bunga Peony yang berwarna-warni. Pemiliknya memeganginya dengan bangga. “Lihat punyaku!” teriak mereka sambil memegangi tanamannya tinggi-tinggi, ketika kaisar berjalan melewati kerumunan. Ia mengangguk senang sambil berlalu, memperhatikan bunga Bell, bunga Forget-me-not, bunga Foxglove, bunga dari setiap warna pelangi.

Chang belum pernah melihat pemandangan yang begitu indah, dan kesedihannya menguap untuk sementara waktu, ketika ia menghirup aroma bunga-bungaan dan mengagumi ukuran dan bentuk bervariasi dari bunga-bunga itu.

Akhirnya kaisar sampai juga di hadapan Chang. Chang membungkukkan kepalanya. “Di mana bungamu, pria muda?” tanya kaisar. Chang melihat cahaya di mata kaisar yang membuatnya terkejut.

“Baginda, hamba telah mengecewakan Baginda,” katanya dengan sedih. “Hamba telah merawat biji yang Baginda berikan. Tetapi seperti Baginda lihat, hamba tak mampu menumbuhkan bunga untuk Baginda. Hamba berharap Baginda memaafkan hamba,” ucap Chang penuh kesedihan.

Tetapi wajah Kaisar bersinar dengan senyum yang lebih cerah, dari pada semua bunga yang ada di sekelilingnya. “Kamulah penggantiku,” kata kaisar menggenggam tangan Chang.

“Tetapi, Baginda, hamba adalah satu-satunya orang yang gagal,” Kaisar menggelengkan kepalanya. “Sebaliknya,” jelasnya, “kamu tahu, aku telah merebus biji-biji ini sebelum aku membagikannya. Tidak satupun dari biji-biji itu yang akan tumbuh. Tetapi semua orang muda lain begitu menginginkan kedudukanku sehingga mereka hanya ingin menyenangkan aku, dengan keindahan bunga mereka, dan dengan demikian mereka berharap mendapatkan tahtaku. Mereka tidak peduli pada kejujuran, pada kebenaran. Hanya kamu yang telah membuktikan bahwa kamu adalah pemimpin yang layak!” Dan begitulah, pria muda dengan pot kosong itu menjadi pengganti Kaisar Cina.

Pesan Moral : 

Kejujuran adalah BAB PERTAMA dalam 'buku kebijaksanaan'. ~ Thomas Jefferson ~

Kamis, 17 Mei 2012

Kalau Boleh Memilih (PUISI)

Kalau boleh memilih...
Aku ingin duduk di belakang...
Atau bersembunyi di balik layar...
Menghabiskan waktu di ruang sunyi...
Dengan kedua lutut yang melekat di karpet...
Dan tangan yang terangkat tanda tak mampu...

Kalau boleh memilih...
Aku mau mengatupkan mulut serapat mungkin...
Tenggelam dalam hening...
Di mana hanya kudengar suaraMu...
Memanggil... Menasehati... Menghibur...
Dan mengajarkanku tentang banyak hal...

Kalau boleh memilih...
Cukup kupilih air mata saat bersamaMu...
Karena itu jauh lebih berkesan... 
Dari semua yang pernah kulalui...
Biarlah semua berlalu...
Karena segala sesuatu tak ada yang abadi...
Keinginan sirna... Kebanggaanpun tak berarti...
Hanya kasihMu, Tuhan...
Yang tak pernah berakhir...


Kalau saja aku boleh memilih...
Aaah, Engkau tahu isi hatiku...
Terima kasih, Tuhan...
Engkau sudah mendengarkanNya...

Created by : Someone

Sabtu, 14 April 2012

TAKUT atau TAAT ?

Perbedaan Melakukan Sesuatu Karena TAKUT atau Karena TAAT



  1. Melakukan sesuatu karena ada konsekuensinya (tidak mendapatkan sesuatu atau takut kehilangan sesuatu).
  2. Sikapnya tergantung dari keadaan sekitarnya; apakah yang ia takuti sedang melihatnya, ada disekitarnya, mengetahuinya atau tidak.
  3. Ia melakukan sesuatu dengan perasaan terpaksa.
  4. Sikap yang timbul karena rasa takut biasanya tidak bertahan lama.
  5. Sikap yang timbul karena rasa takut biasanya dimotivasi oleh egoisme (hanya karena tidak mau diri sendiri rugi).
  6. Bisa berujung pada pemberontakan dan pembangkangan.
  7. Melakukan sesuatu dengan disertai tekanan.
  8. Tujuannya untuk mencari aman diri sendiri; agar diri sendiri tidak rugi.


Melakukan Karena TAAT
  1. Melakukan sesuatu karena sadar bahwa itu memang adalah tanggung jawabnya.
  2. Sikapnya sama dimanapun dan dalam keadaan apapun; Sikapnya tidak ditentukan oleh bagaimana keadaan sekitarnya, apakah ada yang mengawasi atau tidak. 
  3. Melakukan sesuatu dengan kerelaan hati.
  4. Sikap yang timbul karena ketaatan biasanya bertahan lama karena ini adalah karakter.
  5. Sikap yang timbul karena ketaatan biasanya dimotivasi oleh kasih, respek, dan ucapan syukur.
  6. Berujung pada kesetiaan atau loyalitas.
  7. Melakukan sesuatu dengan disertai damai sejahtera.
  8. Tujuannya untuk menyenangkan orang/aturan yang sudah sepantasnya ia hormati dan taati.


Source : HandBook RH Spirit - April 2012

Jumat, 13 April 2012

Obey The Quotes

"Bila kita benar-benar ingin belajar dari orang lain, 
maka kita harus benar-benar taat."
- Ed Townsend -


"Tidak perlu ilmu tinggi untuk menjadi seorang Kristen. 
Yang diperlukan untuk menjadi Kristen adalah hati yang tulus 
dan kesediaan untuk menaati Tuhan."
- Albert Barnes -

"Taat itu lebih aman daripada memberi perintah."
- Thomas Kempis -

"Taat itu bukanlah sesuatu yang berat untuk dilakukan
saat kita mengasihi orang yang kita taati."
- St. Ignatius -

"Sulit untuk dipercaya jika kita sulit untuk taat."
- Soren Kierkegaard -

"Belajarlah untuk taat sebelum anda memerintah."
- Solon -

"Yang paling penting dalam hidup ini adalah 
kesediaan untuk taat pada Tuhan."
- Johannes Tauler -

"Anda bisa melihat Tuhan dimanapun 
asalkan pikiran kita diarahkan untuk mengasihi dan menaatiNya."
- Aiden Wilson Tozer -


Source : Handbook RH Spirit April 2012


Biarlah Video di bawah ini dapat menginspirasi kita untuk tetap taat 
sampai Tuhan datang menjemput setiap kita.






Selasa, 10 April 2012

Dilema Taat


Ketaatan adalah bagian yang penting dalam kehidupan orang Kristen. Tuhan sudah menunjukkan bagaimana Ia taat hingga akhir untuk menyelamatkan kita. Sekarang, tugas kita adalah untuk menaatiNya. Tapi, tantangan dan hambatan untuk taat pun selalu ada. Sering kali, tantangan itu lalu memunculkan dilema. Nah, apa saja tantangan dari ketaatan dan bagaimana kita bisa mengatasinya?

1. Ketika Ketaatan Mensyaratkan Pengorbanan

Taat menjadi sulit dilakukan saat kita harus kehilangan sesuatu atau tepatnya mengorbankan sesuatu. Saat mau taat hidup kudus, kita harus bisa mengendalikan diri dan hawa nafsu kita, meski orang-orang di sekitar kita melakukan yang sebaliknya. Saat kita mau taat memberi, kita harus dapat mengorbankan keinginan membeli sesuatu dengan uang itu. Bagaimana kita bisa menang atas hambatan ini ? Jawabannya adalah dengan iman akan janji Tuhan. Iman akan memunculkan pengharapan bagi kita, dan iman itu membutuhkan ketaatan. Jadi jangan fokus pada hambatannya, melainkan fokuskan pada iman dan Tuhan.

2. Ketika Ketaatan Melebihi Pikiran

Alkitab berisi banyak sekali kisah ketika seseorang harus taat meski Tuhan memerintahkan padanya suatu hal yang tampak tak masuk akal. Abraham dijanjikan Tuhan memiliki banyak keturunan, tapi Tuhan sendiri yang kemudian menyuruhnya untuk mempersembahkan Ishak, anak satu-satunya. Gideon disuruh menyerang 120 ribu pasukan hanya dengan 300 orang. Yosua disuruh mengalahkan kota Yerikho dengan cara mengelilingi temboknya saja. Petrus diminta menjala ikan justru di siang hari dan banyak hal lain. Semuanya secara nalar tidak masuk akal. Tapi, di sinilah ketaatan kita (kepada Tuhan) diuji. PikiranNya bukan pikiran kita (Yesaya 55:8-9). Ya, dalam hal taat kepada Tuhan, kadang kita tidak bisa bersandar pada pengertian diri sendiri. Percayalah bahwa Tuhan akan memberi yang terbaik meski kita dituntut untuk melakukan sesuatu yang tidak masuk akal (Amsal 3:5-6)

3. Ketika Ketaatan = Melawan Arus

Ketaatan mungkin lebih mudah jika semua orang mendukung kita. Tapi akan sulit jika ketaatan berarti melawan arus, bahkan membuat kita harus berdiri sendiri. Banyak orang gagal taat hanya karena ia ingin bisa diterima dan tidak mau diolok-olok, dikucilkan, dianggap aneh, dll. Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengalaminya, demikian juga Nuh atau Yosua, dan tentu saja Yesus sendiri.

4. Ketika Ketaatan Membuat Kita Menderita

Ketaatan bukan tak mungkin memunculkan penderitaan. Yesus mengatakan barangsiapa ingin menjadi muridNya, maka dia harus memikul salib (Lukas 14:27). Dia tidak berjanji kita akan bebas masalah saat kita memutuskan untuk taat dan menjadi muridNya. Tetapi di tengah penderitaan, pencobaan serta tantangan itu, Dia akan menyediakan damai sejahtera, sukacita dan kesatuan dengan Dia. Artinya, saat kita mau taat dan mau "memikul salib", Ia pasti akan membantu kita untuk tetap kuat dan mendapatkan penghiburan.



Source : HandBook RH Spirit - April 2012

Taat yang Keliru


Taat memang adalah satu kata yang kesannya positif. Namun demikian, tidak semua taat itu baik. Berikut adalah beberapa bentuk taat yang tidak seharusnya dilakukan.

1. Taat Karena Ingin Mendapatkan Sesuatu

Sebagai warga negara, maka kita wajib taat pada hukum dan aturan negara. Sebagai anak, maka kita berkewajiban patuh terhadap orang tua. Sebagai anakNya, kita wajib taat pada aturan Firman Tuhan. Kita taat bukan karena ingin mendapat pujian atau hadiah. Motivasi taat adalah kesadaran bahwa kita menyadari kedudukan kita, bukan karena ingin mendapatkan sesuatu.

2. Taat Karena Takut Dihukum atau Rugi

Ada orang taat karena ia takut Tuhan marah padanya. Ia takut jika tidak mendapat berkat. Mengapa motivasi taat seperti ini salah ? Karena orang yang taat padaNya pun bukan berarti dia tidak akan pernah mengalami masalah. Tak heran, jika orang dengan motivasi seperti ini Tuhan izinkan mendapat masalah, maka ia akan kecewa, berontak, menyerah, bahkan tidak lagi mau taat pada Tuhan. Padahal, Tuhan ingin kita taat karena kita mengasihiNya, bukan karena takut atau mengincar berkatNya saja.

3. Taat yang Ditunda

Taat bukan hanya berbicara tentang apakah kita mengerjakan atau tidak, tetapi kapan kita mengerjakannya. Sebuah perintah yang diberikan hari ini bisa jadi sudah tidak akan berguna lagi jika dikerjakan besok pagi. Ya, taat membutuhkan kedisiplinan dalam melakukannya. Bangsa Israel pernah mendapat murka Allah karena meski mereka mau membangun rumah Tuhan, tapi mereka menunda-nunda melakukannya (Hagai 1:2). Ya, taat berarti kita tidak lagi main tawar menawar dengan si pemberi perintah. Jika ketaatan tersebut hanya dilakukan berdasarkan minat ataupun mood kita, maka  itu bukanlah ketaatan melainkan tindakan sukarela.

4. Taat karena Ada yang Mengawasi

Orang melanggar lampu lalu lintas karena tak ada polisi tentu sudah sering kita lihat. Serius bekerja hanya saat ada atasan atau bersikap hormat pada orang tua dan pasangan hanya saat ada tamu, juga mungkin sering kita lihat. Banyak orang taat karena ada pengawas. Tapi ini juga bukan taat, melainkan hanya pura-pura taat. Ketaatan justru dinilai saat tidak ada yang memerhatikan dan menilai kita. Apalagi kita harus ingat bahwa saat tidak ada otoritas di sekitar kita pun, akan selalu ada Otoritas Tertinggi yang selalu melihat apa yang kita lakukan. Itulah sebabnya Kolose 3:23 mengingatkan kita agar melakukan segala sesuatu seperti kita melakukannya untuk Tuhan.

5. Taat Setengah-Setengah

Ketaatan itu membutuhkan totalitas. Ini tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah saja. Tuhan mengingatkan kita agar tidak suam-suam kuku dan harus total dalam segala sesuatu yang kita lakukan (Wahyu 3:16). Jika tidak, maka apa yang kita lakukan untuk Dia tersebut akan sia-sia dan "dimuntahkan"-Nya kembali. Ketaatan yang setengah-setengah adalah pada saat kita menawar-nawar apa yang sudah ditetapkan untuk kita taati. Kita mau taat berdoa asalkan tidak usah memberi. Kita merasa sudah melayani sehingga tidak perlu lagi berbuat baik di luar gereja. Kita merasa sudah memberi sehingga tidak perlu lagi menjaga perkataan kita. Itulah contoh ketaatan yang hanya setengah-setengah. Tentu saja, Tuhan tidak akan berkenan pada ketaatan yang seperti itu.

6. Taat Pada Hal yang Keliru

Meskipun di nomor 3 dikatakan bahwa taat membutuhkan kedisiplinan untuk segera menjalankannya, tapi apa yang kita taati juga berpengaruh. Adolf Eichmann adalah pemimpin kamp konsentrasi yang telah menewaskan banyak orang Yahudi pada zaman Nazi. Ketika ditanya di pengadilan mengapa ia melakukan itu, ia berkata : "Saya hanya menaati perintah." Ini mungkin memang ketaatan. Tapi apakah ketaatannya itu bisa dibenarkan ? Tentu saja tidak. Taat pada sesuatu yang salah akan membuat kita salah. Taat yang tidak didasarkan pada kebenaran membuat ketaatan kita tidak benar.


Source : 
HandBook RH Spirit - April 2012